Rabu, 02 Maret 2016

Senja Dimatamu

Langit senja mulai menyala.

Dan lagi, senja mengingatkan aku pada setumpuk ingatan tentang kamu.
Terasa sesak sebab, ada rindu yang belum terobati.

Senja semakin nyata.
Menghadirkan sekilas wajah kamu menjelma di awan-awan.
Semburat rona jingga yang emas itu sedikit menyentuh memoriku.
Bagaimana manis senyum kamu terbayang,
begitu lepasnya tawa kita saat senja kala itu, saat aku dan kamu masih bersama
Ketika kamu mendekapku erat karena tak bisa kamu membawaku ke tempat indah untuk menyaksikan senja denganmu.

Menatap lembut serta kecupan di kening lalu kamu berucap "masih ada senja di matamu".

Kali pertama aku begitu rindu hanya karena senja.
Senja yang perlahan sanggup mencabik segala ingatan yang sampai saat ini masih kukenang-kenang.
Tahukah kamu? Betapa hebat aku merindumu sampai ingin gila rasanya

Seberapa gigih mau kuraih cintamu, pada akhirnya kamu telah pergi bersama senja yang tenggelam.
Andai saja bisa kudapati raga dan rasamu yang mungkin ada aku tinggal disana.
Mungkin pula aku masih bisa duduk berdua memandang langit senja walaupun bukan di tempat yang indah.

Kini kamu telah pergi.
Namun, aku masih setia menunggumu kembali.
Meski kutahu kamu tidak akan mungkin hadir lagi disisiku.




Makassar, 7 Oktober 2016